Judul Artikel Asli
Peran Nilai Budaya dalam Membentuk Perspektif Toleran dan Intoleran di Madura: Studi Kasus Konflik Sunni-Syiah di Desa Karanggayam Kecamatan Omben Kabupaten Sampang-Madura
Penulis
1. Mujtahidin – Universitas Trunojoyo Madura (mujtahidin@trunojoyo.ac.id)
2. Mahmud – Universitas Trunojoyo Madura (mahamud@trunojoyo.ac.id)
3. Mohammad Edy Nurtamam – Universitas Trunojoyo Madura
Dipublikasikan dalam Jurnal Pamator, Volume 10 No. 2, Oktober 2017, Halaman 122–127

Insight Reflektif
Artikel ini mengkaji konflik antarmazhab di Madura dan menunjukkan bahwa nilai budaya lokal dapat menjadi akar pembentuk perspektif toleran maupun intoleran dalam masyarakat. Khususnya, nilai harga diri (izzah) di Madura, jika disalahpahami atau disalahgunakan, dapat menjadi pemicu intoleransi dan bahkan radikalisme. Namun sebaliknya, ketika nilai-nilai seperti settong dere (satu saudara), lakkum diinukum waliadin (bagimu agamamu, bagiku agamaku), dan tradisi rokat tase’ dihidupkan, masyarakat Madura menunjukkan toleransi dan gotong royong lintas iman yang luar biasa.
Literasi digital, sains, dan kewarganegaraan tidak cukup hanya berbasis teknologi. Ia perlu dimanusiakan dengan nilai-nilai budaya lokal yang merekatkan: toleransi, harmoni, dan rasa hormat terhadap sesama. Refleksi penting dari artikel ini adalah bahwa transformasi pembelajaran di era digital tidak cukup hanya memindahkan ruang belajar dari kelas ke platform digital. Transformasi ini juga harus disertai dengan integrasi nilai-nilai lokal yang konstruktif ke dalam pendidikan, khususnya Pendidikan Pancasila di sekolah dasar. Dalam hal ini, nilai-nilai budaya Madura yang menjunjung martabat, persaudaraan, dan perdamaian menjadi sangat relevan sebagai dasar untuk membentuk literasi kewargaan digital yang etis, toleran, dan kontekstual.
Literasi digital tanpa fondasi nilai berisiko melahirkan warga digital yang pandai namun tidak peduli. Literasi sains tanpa nilai budaya bisa menjadi alat yang membelah, bukan menyatukan. Literasi kewarganegaraan tanpa toleransi bisa menjadi legitimasi eksklusivisme. Oleh karena itu, nilai-nilai lokal Madura perlu dihidupkan kembali sebagai instrumen pembelajaran transformatif, terutama dalam konteks menyelesaikan konflik tanpa kekerasan dan menumbuhkan warga digital yang respek, reflektif, dan harmonis.
Format Sitasi APA
Mujtahidin, Mahmud, & Nurtamam, M. E. (2017). Peran Nilai Budaya dalam Membentuk Perspektif Toleran dan Intoleran di Madura: Studi Kasus Konflik Sunni-Syiah di Desa Karanggayam Kecamatan Omben Kabupaten Sampang. Jurnal Pamator, 10(2), 122–127. http://journal.trunojoyo.ac.id/pamator.
© Lisensi & Hak Cipta
Hak cipta milik Penulis dengan lisensi Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License (CC BY-NC-SA). Pembaca diperkenankan mengutip, membagikan, dan menggunakan sebagian konten untuk tujuan pendidikan dan non-komersial, dengan mencantumkan sumber dan penulis. Hak cipta atas karya tersebut tetap berada pada penulis dan/atau penerbit masing-masing.
Bagikan ulasan ini agar semakin banyak pendidik, mahasiswa, dan publik dapat menemukan rujukan riset yang relevan dan terpercaya. Bersama memperluas akses pengetahuan kewarganegaraan berbasis Nusantara.



